Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Oktober 2014

Seutuhnya Bidadari


Assalamu'alaikum akhwatfillah,,,
Lama tidak menyapa di dumay. Semoga selalu dalam semangat yang membara, iman yang semakin menyubur, hati yang damai dan fisik yang sehat. Aamiin

Akwatfillah, perjuangan ini tidak ubahnya seperti pendakian gunung. Mental kita diuji dan niat untuk mendaki pun terusik saat melihat betapa banyaknya bebatuan dan terjal di pegunungan. Teringat saat mendaki gunung di pertualangan SIDDIQ 28. Ketika saya sudah mulai ingin menyerah dan ingin berhenti untuk mendaki padahal tinggal beberapa langkah lagi, ada dorongan yang kuat dari adik-adik panitia. "Ayo kak majidah, sedikit lagi, naik terus!. Bagus kali pemandangan disini" teriak mereka di atas puncak gunung. Hati saya pun berbisik "Jika mereka bisa sampai ke puncak gunung, kenapa saya nggak?. "Oke semangaat majidaaah!", saya memompa semangat diri sendiri". Akhirnya pendakian pun terus dilanjutkan walau dengan nafas tersengal-sengal, keringat yang semakin bercururan dan alhamdulillah sampai juga di puncak. Walaupun pada akhirnya bingung dan ketakutan pada saat turun, Haha

Jumat, 14 Maret 2014

Mengapresiasikan Diri

       
Bulan Desember tahun 2013 yang lalu , saya dan teman-teman SMI sepakat untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh UNIMAL. Dan kami pun di kumpulkan di kantor jurusan untuk bertemu dengan pak Iqbal membahas teknis lomba. Singkat cerita, dalam waktu 10 hari kami diminta untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah tersebut baik dikerjakan secara tim maupun perorangan.

Senin, 30 Desember 2013

Bergerak dan Menata dalam Ketiakpastian



Merasa baru saja beberapa hari yang lalu melangkah ke Banda Aceh. Mendaftar dari kampus ke kampus dalam kecemasan hati akan masa depan perkuliahan.  Membayar uang pendaftaran, mengisi formulir, menjawab soal-soal tes ujian, menanti pengumuman, berpamitan dengan mak, yah,nenek, kakek, ummi, tengku, daaan sanak saudara lainnya pada saat keberangkatan pertama. Ah, serasa baru saja.
Dan kemaren saat berjumpa dengan  seketaris jurusan SMI ( HES) beliau berkata ”Dah bisa judul ini majidah, apalagi sudah disetujui sama Pak Yasir (Wakil Dekan 1), disiapkan terus proposal skripsinya biar bisa cepat seminar.” Tentu saya sangat senang dan bersyukur. Tahap awal untuk menyelesaikan tugas akhir alias skripsi pun sudah di mulai. Ya, saya baru memulai sedangkan beberapa kawan lainnya sudah melangkah dalam jarak yang sangat jauh. Ada yang sedang menanti SK pembimbing, ada yang sudah dapat pembimbing bahkan ada yang sudah menulis BAB II. Woow banget, saya ketinggalan. Hehe. Ok, Tak pa, Semangat! ^_^

Senin, 28 Oktober 2013

Sepotong Sejarah di Kota Sada Kata


Oleh: Majidah  Nur
Hampir disetiap momen MTQ selalu dimeriahkan dengan kunjungan tempat wisata. Biasanya acara ini diselipkan ketika semua cabang perlombaan MTQ selesai tampil babak final. Dan, pada MTQ ke-31 tingkat provinsi tahun ini, panitia telah meng-agendakan wisata islami yang wajib diikuti oleh semua kontingen dari berbagai kabupaten.
Awalnya saya memprediksikan bahwa  kami diajak bermain ke pantai islami atau sejenis tempat rekreasi lainnya, seperti kunjungan wisata yang biasa pernah dilaksanakan pada beberapa ajang MTQ tahun sebelumnya. Dan ternyata prediksi saya salah, karena wisata dalam ajang MTQ tahun ini berbeda. Panitia menyampaikan bahwa wisata islami yang dimaksudkan adalah berkunjung ke pemakaman Syekih Hamzah Fansuri.
Tepat hari minggu (30/6/2013) sekitar Jam 09.00 semua kontingen diintruksikan untuk segera berangkat menuju Desa  Oboh, kecamatan Runding. Disinilah ulama sufi itu dikebumikan. Perjalanan yang indah ini ditemani oleh hijaunya pemadangan kebun sawit sepanjang jalan. Walaupun sedikit khawatir akan keselamatan diri karena jalur jalan raya menuju tempat tersebut dipenuhi terjal dan lubang-lubang.
Sekitar jam 10.00 WIB kami tiba ditempat yang dituju. Seperti kebiasaanya, banyak para panitia dan peserta MTQ yang mendokumentasi lokasi pemakaman tersebut. Dan saya beserta beberapa peserta dari Kabupaten Nagan Raya sempat mewawacarai seorang bapak yang bertindak sebagai pengawal makam Syeikh Hamzah Fanshuri. Menurut keterangan beberapa pengawal lain  mengatakan bahwa bapak tersebut lebih banyak mengetahui informasi tentang Syeikh dibandingkan mereka. Karena itulah kami memilih beliau untuk diwawancarai. Dan kebetulan, kami lupa menanyakan nama bapak ini. Beberapa pertanyaan pun akhirnya kami lontarkan untuk mendapatkan informasi dari beliau.